SEMARANG — Mendekati puncak ibadah haji dan perayaan Idul Adha, umat Islam mengenal dua hari yang sarat makna: Tarwiyah dan Arafah. Keduanya bukan sekadar penanda waktu, melainkan momen refleksi spiritual yang telah berlangsung ribuan tahun.
Secara etimologi, kata Tarwiyah berasal dari bahasa Arab, rawwa–yurawwi, yang bermakna "merenungkan" atau "memikirkan secara mendalam". Istilah ini merujuk pada momen krusial ketika Nabi Ibrahim AS menerima mimpi dari Allah SWT yang memerintahkannya untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail AS.
Alih-alih bertindak gegabah, Nabi Ibrahim menghabiskan waktu siang dan malam untuk merenungi serta memahami makna dari mimpi tersebut. Proses perenungan inilah yang kemudian diabadikan sebagai Hari Tarwiyah, melambangkan upaya manusia untuk memahami kehendak Ilahi dengan penuh kesabaran dan keikhlasan.
Dalam pelaksanaan ibadah haji, Hari Tarwiyah menjadi penanda dimulainya perjalanan para jamaah dari Makkah menuju Mina. Di Mina, mereka melaksanakan salat dan bermalam sebelum melanjutkan perjalanan ke Arafah pada hari berikutnya. Tradisi ini telah berlangsung secara turun-temurun hingga sekarang sebagai bagian dari manasik haji yang khusyuk.
Setelah melewati malam di Mina, para jamaah kemudian menuju Padang Arafah pada Hari Arafah. Puncak ibadah haji ini merupakan momentum wukuf, yaitu berhenti dan berdoa di Padang Arafah, yang menjadi rukun utama haji. Hari Arafah juga dikenal sebagai hari paling mustajab untuk berdoa dan memohon ampunan.
Kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail tidak hanya menjadi dasar sejarah Hari Tarwiyah dan Arafah, tetapi juga inti dari perayaan Idul Adha. Peristiwa ini mengajarkan tentang ketaatan mutlak kepada Allah SWT dan kerelaan berkorban demi menjalankan perintah-Nya. Bagi umat Muslim di seluruh dunia, momen ini menjadi pengingat untuk senantiasa merenungkan setiap keputusan dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.