Kerajinan Kuluk Manten dari Desa Sambon Boyolali Tembus Pasar Belanda dan Prancis, Harga Mulai Rp15 Ribu

Penulis: Wahyu Hidayat  •  Selasa, 19 Mei 2026 | 22:34:01 WIB
Perajin Desa Sambon Boyolali mengekspor kuluk manten tradisional ke pasar Belanda dan Prancis.

BOYOLALI — Di tengah gempuran produk massal, sebuah kampung di lereng Gunung Merapi-Merbabu justru menemukan pijakan ekonomi dari tradisi. Para perajin di Desa Sambon, Kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali, berhasil mengekspor kerajinan kuluk manten hingga ke Belanda dan Prancis. Produk yang dulunya hanya dipakai untuk keperluan adat dan pernikahan ini kini menjadi komoditas bernilai ekonomi tinggi.

Dari Ritual ke Pasar Global: Bagaimana Kuluk Manten Tembus Eropa?

Proses produksi kuluk manten di Desa Sambon masih dikerjakan secara manual dengan bahan dasar kain beludru dan manik-manik. Setiap buah dikerjakan dalam waktu dua hingga tiga hari, tergantung tingkat kerumitan motif. Motif yang digunakan pun mengacu pada pakem keraton, terutama dari Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta.

Para pembeli dari Belanda dan Prancis umumnya adalah diaspora Jawa serta kolektor benda budaya Nusantara. “Mereka memesan untuk keperluan pernikahan adat atau sekadar koleksi,” ujar salah satu perajin setempat. Pengiriman dilakukan secara berkala melalui jasa ekspedisi internasional.

Harga Variatif, dari Ekonomis hingga Standar Keraton

Nominal harga yang dibanderol sangat variatif dan kompetitif. Untuk jenis paling ekonomis, konsumen bisa mendapatkan kuluk manten seharga Rp15 ribu per buah. Sementara untuk grade tertinggi yang sesuai standar keraton, harganya mencapai Rp100 ribu per buah. Perbedaan harga terletak pada jenis kain, kerapihan jahitan, serta detail ornamen yang digunakan.

Nguri-uri Budaya Sekaligus Menopang Ekonomi Desa

Kegiatan merajut kuluk manten ini bukan sekadar usaha ekonomi. Bagi warga Desa Sambon, ini adalah bentuk nguri-uri budaya—merawat dan melestarikan tradisi leluhur. Setiap helai kain dan setiap tusukan jarum adalah upaya menjaga identitas di tengah arus modernisasi. “Kami ingin anak cucu tetap tahu bahwa kuluk manten bukan sekadar aksesori, tapi simbol kehormatan,” tambah perajin lainnya.

Dengan adanya permintaan dari luar negeri, para perajin kini bisa mendapatkan penghasilan tambahan yang signifikan. Pemerintah Desa Sambon pun mulai melirik potensi ini untuk dikembangkan sebagai produk unggulan daerah. Rencananya, pelatihan desain dan pemasaran digital akan digelar agar jangkauan pasar semakin luas.

Apa yang Membuat Kuluk Manten Sambon Berbeda?

Keunikan produk dari Desa Sambon terletak pada proses pembuatan yang sepenuhnya manual dan penggunaan motif yang merujuk langsung pada standar keraton. Tidak semua daerah penghasil kuluk manten bisa mengklaim hal serupa. Sentuhan personal dan pengetahuan turun-temurun inilah yang membuatnya memiliki nilai lebih di mata kolektor mancanegara.

Ke depannya, para perajin berharap ada dukungan lebih dari pemerintah kabupaten, terutama dalam hal perizinan ekspor dan akses bahan baku berkualitas. Dengan begitu, tradisi kecil di sebuah desa di Boyolali ini bisa terus hidup dan menghidupi banyak orang.

Reporter: Wahyu Hidayat
Sumber: radarsolo.jawapos.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top