Upaya meningkatkan partisipasi pendidikan di Kota Tegal menghadapi tantangan unik akibat kondisi geografis dan sosial ekonomi masyarakat. Sebagian anak di wilayah pesisir dan daerah kantong perantau cenderung meninggalkan bangku sekolah demi membantu ekonomi keluarga.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Tegal, Dewi Umaroh, mengungkapkan bahwa fenomena ini terlihat jelas di beberapa kelurahan. Di wilayah pesisir seperti Muarareja dan Tegalsari, banyak anak yang lebih memilih untuk melaut sebagai nelayan daripada melanjutkan sekolah.
Kondisi serupa ditemukan di Kelurahan Cabawan dan Krandon. Di dua wilayah tersebut, anak-anak usia sekolah justru lebih banyak terlibat membantu orang tua mereka mengelola usaha Warung Tegal atau Warteg, baik di dalam kota maupun saat merantau ke luar daerah.
"Peserta didik yang disalurkan ke PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat) dan SKB (Sanggar Kegiatan Belajar) sampai sekarang masih berjalan," ujar Dewi saat menjelaskan progres program penuntasan putus sekolah di Kota Tegal, baru-baru ini.
Dewi mengakui, kendala utama di lapangan adalah pola pikir ekonomi jangka pendek. Anak-anak di Muarareja dan Tegalsari seringkali terpikat untuk bekerja di kapal karena hasil yang instan. Sementara itu, keterlibatan anak dalam bisnis Warteg di Cabawan dan Krandon sudah menjadi tradisi turun-temurun yang sulit diputus tanpa pendekatan khusus.
Untuk mengatasi hal tersebut, Pemerintah Kota Tegal mengandalkan program Asela Dijaketi. Nama ini merupakan akronim dari Ayo Sekolah Lagi yang Terintegrasi dengan Pendidikan Kejar Paket dan Inklusi, sebuah inisiatif yang dirancang untuk merangkul kembali mereka yang sempat berhenti sekolah.
Agar pendidikan tidak berbenturan dengan waktu bekerja, Disdikbud Kota Tegal memberikan fleksibilitas dalam proses belajar mengajar. Warga yang tidak bisa hadir secara fisik di kelas tetap bisa mengikuti kurikulum melalui metode pembelajaran jarak jauh.
"Kami juga fasilitasi pembelajaran daring melalui tutor yang mengirimkan modul," kata Dewi.
Melalui skema ini, para pekerja di sektor perikanan maupun pelayan Warteg tetap dapat mengakses materi pelajaran secara digital. Pemanfaatan teknologi ini diharapkan mampu menghapus sekat ruang dan waktu bagi warga yang ingin mendapatkan ijazah setara SD (Paket A), SMP (Paket B), maupun SMA (Paket C).
Keberhasilan program Asela Dijaketi sangat bergantung pada peran relawan di tingkat akar rumput. Sejak diluncurkan empat tahun lalu, para relawan pendidikan di setiap kelurahan bertugas melakukan pendataan dan pendekatan persuasif kepada keluarga yang anaknya putus sekolah.
Mereka mengarahkan warga untuk bergabung ke Sanggar Bangkit Belajar atau lembaga pendidikan nonformal lainnya yang dikelola pemerintah. Sinergi antara relawan, PKBM, dan SKB menjadi tulang punggung dalam mengejar target peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Kota Tegal melalui sektor pendidikan inklusif.