Siswi JIS Olah 400 Kilogram Sampah Sachet di Bergas Kidul Jadi 20 Meja-Kursi PAUD

Penulis: Yanto Prasetya  •  Jumat, 09 Oktober 2026 | 12:16:01 WIB
Siswi JIS mengolah 400 kilogram sampah sachet menjadi 20 unit meja dan kursi untuk PAUD.

KABUPATEN SEMARANG — Sebanyak 21 bank sampah aktif di Desa Bergas Kidul menjadi titik awal proyek pengolahan limbah plastik multilayer (MLP) yang digagas Giselle Purnama. Sampah sachet yang selama ini sulit terserap sistem pengelolaan konvensional dikumpulkan, lalu diolah menjadi particle board atau lembaran material bahan dasar berbagai produk.

Dari 400 kilogram MLP yang terkumpul, proses pengolahan menghasilkan 20 unit meja dan kursi. Furnitur itu diserahkan kepada PAUD/TPA As Syukur di Leyangan sebagai penunjang kegiatan belajar dan bermain anak-anak.

Berawal dari Praktik Kerja Lapangan di Sido Muncul

Giselle menyebut proyek ini berangkat dari pengamatannya saat menjalani praktik kerja lapangan di Sido Muncul pada 2025. Pengalaman itu membuka pandangannya terhadap potensi bank sampah di Bergas Kidul yang belum termanfaatkan sepenuhnya.

"Saya melihat ada potensi besar dari bank sampah di Bergas Kidul. Saya ingin sampah yang selama ini belum termanfaatkan bisa diolah menjadi sesuatu yang berguna, sehingga manfaatnya kembali kepada masyarakat dan sekaligus mendukung kepedulian terhadap lingkungan hijau," ujar Giselle.

Bersama Community Development Sido Muncul dan pengelola bank sampah setempat, ia mendorong pemanfaatan MLP menjadi material yang punya fungsi baru. Sampah tidak lagi berhenti di tahap pemilahan, tetapi diolah menjadi bahan yang bisa dibentuk jadi produk jadi.

Workshop Juli 2026 Hasilkan Ragam Produk Warga

Wujud nyata gagasan itu digelar melalui workshop pengolahan sampah MLP pada Juli 2026. Warga diperkenalkan pada cara memanfaatkan plastik multilayer menjadi bahan olahan, sekaligus didorong mengembangkan kreativitas lewat lomba pembuatan produk.

Hasilnya beragam, mulai dari tempat sampah, meja, kursi, hiasan rumah, hingga rak buku dan rak sepatu. Produk-produk itu memperlihatkan bahwa sampah yang sulit ditangani masih punya nilai guna bila didukung pengetahuan dan keterampilan yang sesuai.

"Prinsipnya dari masyarakat, untuk masyarakat. Saya berharap kegiatan ini tidak hanya membantu mengurangi sampah, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi warga, baik dari sisi lingkungan maupun peluang meningkatkan kesejahteraan," kata Giselle.

PAUD As Syukur Layani 15 Anak dengan Lima Pengasuh

PAUD/TPA As Syukur di Leyangan menerima bantuan meja, kursi, dan mainan edukasi untuk menunjang kegiatan harian. Lembaga ini telah berdiri sejak 2013 dan kini melayani 15 anak dengan dukungan lima pengasuh.

Kegiatan pengasuhan dan pembelajaran berjalan setiap Senin hingga Sabtu. Selain kegiatan akademis, pembelajaran dilakukan melalui bermain dan pendidikan agama untuk membantu anak-anak belajar, berinteraksi, dan mengenal lingkungan sekitarnya.

"Alhamdulillah, bantuan meja dan kursi ini sangat membantu kegiatan pembelajaran anak-anak. Apalagi ada dukungan mainan edukasi yang bisa digunakan untuk menunjang aktivitas mereka sehari-hari," ujar Ketua PAUD/TPA As Syukur, Siti Makfiah.

Layanan penitipan di PAUD/TPA As Syukur ditawarkan dengan biaya mulai Rp450 ribu, dengan pilihan penitipan harian bagi orang tua yang membutuhkan. Ketersediaan fasilitas yang memadai menjadi salah satu kebutuhan untuk menunjang aktivitas pengasuhan dan pembelajaran enam hari dalam sepekan.

Bank Sampah sebagai Rantai Pemanfaatan Limbah

Bagi warga Bergas Kidul, workshop MLP membuka cara pandang baru terhadap peran bank sampah. Selama ini bank sampah dikenal sebagai tempat pengumpulan material bernilai jual. Kini fungsinya meluas menjadi bagian dari rantai pemanfaatan limbah menjadi produk yang berguna sehari-hari.

Proyek Giselle menunjukkan bahwa plastik multilayer yang selama ini dianggap tidak bernilai masih bisa diolah menjadi material fungsional. Pengetahuan, keterampilan, dan proses pengolahan yang tepat menjadi kunci agar limbah tersebut tidak berakhir di tempat pembuangan akhir.

Reporter: Yanto Prasetya
Sumber: jatengpos.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top