SEMARANG — Dosen tetap UNSIQ Wonosobo itu menjalani perkuliahan doktoral sambil menyusui dan merawat bayinya. Ujian terbuka promosi doktor Program Studi S-3 Studi Islam UIN Walisongo Semarang digelar Senin (28/9/2026), dan disertasinya dinyatakan lulus.
Perjalanan menuju gelar doktor dijalani Lailiyah bersamaan dengan sejumlah tanggung jawab yang berjalan serentak: mengajar, mengikuti perkuliahan, melakukan penelitian, menyelesaikan disertasi, dan mendampingi tiga anaknya yang masih kecil.
Salah satu fase paling berat terjadi ketika ia harus mengikuti perkuliahan saat anaknya masih bayi. Lailiyah harus menyusun ritme hidup yang ketat agar semua peran tetap berjalan.
"Kuliah doktor ketika punya bayi perlu perjuangan lebih, terutama saat harus meninggalkan bayi saat kuliah, kuliah sambil pumping ASI. Belum lagi saat harus menginap karena masuk pagi, mau tidak mau anak bayi diajak serta," ungkap Lailiyah.
Beban itu bertambah karena ia juga harus mengerjakan disertasi. Lailiyah menyebut dirinya menjalani dobel peran sekaligus: mahasiswi S-3, wanita karier yang mengajar di UNSIQ, istri, dan ibu dari tiga anak yang masih kecil-kecil.
"Mengerjakan disertasi dengan dobel peran, mahasiswi S-3, wanita karier yang mengajar di UNSIQ, menjadi istri, dan seorang ibu dari tiga anak yang masih kecil-kecil," ujarnya.
Bagi Lailiyah, menyelesaikan pendidikan tinggi bukan alasan mengurangi perhatian terhadap keluarga. Ia tetap berusaha hadir dalam tahapan tumbuh kembang ketiga anaknya.
"Sambil menyelesaikan disertasi tetap harus meluangkan waktu untuk anak-anak," katanya.
Perhatian pada pendidikan agama anak menjadi salah satu fokusnya. Anak pertamanya yang kini berusia 9 tahun dan duduk di kelas 4 SD telah menyelesaikan hafalan Al-Qur'an 30 juz.
"Ini menjadi PR besar saya untuk terus membersamai anak agar lebih giat dalam murojaah menjaga hafalannya. Karena masih kecil jadi ibu yang mengatur waktu sang anak," tuturnya.
Lailiyah mengaku tidak memasang target berlebihan saat menempuh pendidikan doktoral. Menurutnya, menyelesaikan studi dan memperoleh ilmu yang bermanfaat lebih penting daripada mengejar predikat tertentu.
"Saat kuliah S-3 tidak berharap lebih selain menyelesaikan kuliah dan mendapatkan ilmu dan pengalaman yang bermanfaat," katanya.
Sikap itu berbeda dengan pencapaiannya di jenjang sebelumnya. Saat S-1, ia meraih IPK 3,95 dan menyusun skripsi menggunakan bahasa Arab meski mengambil Program Studi Pendidikan Agama Islam. Pada jenjang S-2, ia kembali menjadi wisudawan terbaik dengan IPK tinggi sekaligus memiliki hafalan Al-Qur'an.
"Dulu waktu kuliah S-1 dan S-2 selalu menjadi wisudawan terbaik. Untuk S-3 tidak berharap banyak, yang penting bisa selesai dan mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan berkah," ujarnya.
Dalam promosi doktornya, Lailiyah mempertahankan disertasi berjudul "Penerapan Eco-Sosio-Pedagogis dalam Internalisasi Nilai-Nilai Moderasi Beragama Melalui Pendidikan Agama Islam pada Sekolah Dasar Negeri di Kabupaten Wonosobo."
Penelitian itu berangkat dari persoalan keberagaman kehidupan beragama di Indonesia, termasuk tantangan berupa sikap intoleran dan eksklusif serta kemampuan sebagian masyarakat dalam mengelola perbedaan.
Lailiyah mengkaji proses penanaman nilai moderasi beragama melalui pembelajaran Pendidikan Agama Islam di sejumlah SD negeri di Kabupaten Wonosobo. Pendekatan yang dipakai adalah kualitatif dengan metode studi kasus multisitus, menggunakan observasi, wawancara, dan analisis dokumen.
Sejumlah pihak dilibatkan dalam penelitian, mulai dari kepala sekolah, guru Pendidikan Agama Islam, guru kelas, siswa, orang tua, hingga pihak terkait lainnya.
Hasil penelitian menunjukkan pembentukan karakter moderat peserta didik tidak hanya terjadi melalui materi pembelajaran di dalam kelas. Pembiasaan sehari-hari, keteladanan guru, budaya sekolah, kegiatan ekstrakurikuler, hingga interaksi sosial di lingkungan pendidikan turut berperan.
Guru Pendidikan Agama Islam menempati posisi penting dalam proses tersebut. Pendekatan pembelajaran yang dialogis, reflektif, kontekstual, partisipatif, dan berbasis keteladanan dinilai mendukung internalisasi nilai moderasi beragama pada siswa sekolah dasar.