Rupiah Melemah ke Rp17.870 per Dolar AS, Tertekan Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga Fed

Penulis: Usman Harun  •  Kamis, 24 September 2026 | 09:50:00 WIB
Nilai tukar rupiah dibuka melemah ke level Rp17.870 per dolar AS pada perdagangan Kamis (24/9) pagi.

JAWA TENGAH — Nilai tukar rupiah dibuka melemah 52 poin atau 0,29 persen ke level Rp17.870 per dolar AS pada perdagangan Kamis (24/9) pagi. Pelemahan mata uang Garuda sejalan dengan mayoritas mata uang Asia yang terdepresiasi terhadap dolar AS, dipicu meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve. Analis memperkirakan rupiah bergerak dalam rentang Rp17.800 hingga Rp17.950 sepanjang hari ini.

Analis mata uang DOO Financial Futures Lukman Leong menyatakan pelemahan rupiah dipengaruhi penguatan dolar AS yang berlanjut. Tekanan datang dari dua sisi sekaligus: ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed dan lonjakan harga minyak dunia.

"Rupiah diperkirakan dibuka melemah seiring penguatan dolar AS di tengah meningkatnya ekspektasi bahwa Federal Reserve akan menaikkan suku bunga dalam waktu dekat. Sementara itu, harga minyak kembali melonjak setelah Iran meragukan kemajuan dalam perundingan perdamaian," ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com.

Mayoritas Mata Uang Asia Ikut Tertekan

Pelemahan rupiah bukan fenomena tunggal. Hampir seluruh mata uang utama Asia bergerak senada terhadap dolar AS, menandakan tekanan bersifat regional, bukan spesifik Indonesia.

  • Yuan China turun 0,10 persen
  • Peso Filipina melemah 0,23 persen
  • Ringgit Malaysia terdepresiasi 0,25 persen
  • Dolar Singapura melemah 0,06 persen
  • Won Korea Selatan turun 0,34 persen
  • Yen Jepang justru menguat 0,24 persen
  • Dolar Hong Kong naik tipis 0,01 persen

Dari kelompok mata uang negara maju, pergerakan juga bervariasi. Euro melemah 0,07 persen, poundsterling Inggris turun 0,07 persen, dolar Australia terkoreksi 0,16 persen, dan dolar Kanada melemah 0,04 persen. Franc Swiss menjadi pengecualian dengan penguatan tipis 0,02 persen.

Dua Pemicu Utama Tekanan Terhadap Rupiah

Faktor pertama adalah ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve. Pasar mencermati sinyal hawkish dari bank sentral AS yang bisa mendorong dolar AS menguat lebih lanjut terhadap mata uang emerging market, termasuk rupiah.

Faktor kedua datang dari pasar energi. Harga minyak kembali melonjak setelah Iran meragukan kemajuan perundingan perdamaian. Ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah biasanya memicu aksi risk-off yang menguntungkan dolar AS sebagai aset safe haven.

Rentang Pergerakan dan Proyeksi Hari Ini

Lukman memperkirakan rupiah akan bergerak dalam rentang Rp17.800 hingga Rp17.950 per dolar AS pada perdagangan hari ini. Level tersebut mencerminkan volatilitas yang masih tinggi seiring pasar menunggu sinyal lebih jelas dari The Fed.

Bagi investor dan pelaku bisnis, pelemahan rupiah berdampak langsung pada biaya impor bahan baku, harga barang elektronik, serta beban utang perusahaan yang denominasinya dalam dolar AS. Emiten dengan pendapatan dolar justru berpotensi diuntungkan dari pelemahan ini.

Reporter: Usman Harun
Sumber: cnnindonesia.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top