JAWA TENGAH — Rupiah dibuka melemah 0,18% ke Rp17.724 per dolar AS di pasar spot, lalu melanjutkan penurunan 0,24% ke Rp17.735 per dolar AS pada 09:10 WIB. Pelemahan terjadi setelah bank sentral Amerika Serikat menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin ke rentang 3,75-4%, yang mengangkat indeks dolar AS ke 100,27.
Bloomberg Technoz melaporkan, tekanan terhadap mata uang Asia datang dari sikap hawkish Federal Reserve. Kenaikan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin ke 3,75-4% membuat dolar AS menguat terhadap enam mata uang utama, tercermin dari indeks dolar yang menyentuh 100,27.
Pelaku pasar uang kini memperkirakan sekitar 50% peluang kenaikan suku bunga acuan lanjutan pada Oktober. Ekspektasi itu muncul karena inflasi diperkirakan semakin meluas, sehingga investor mempertimbangkan seberapa cepat The Fed akan kembali mengetatkan kebijakan.
Won Korea Selatan Melemah Paling Tajam di Asia
Dari kawasan, won Korea Selatan mencatat pelemahan terdalam. Disusul baht Thailand, rupiah, ringgit Malaysia, peso Filipina, yuan China, dolar Taiwan, dan yuan offshore.
Sebaliknya, yen Jepang mendapat penguatan terbatas bersama dolar Singapura. Tertahannya laju mata uang Asia tidak lepas dari dominasi dolar AS di pasar global.
Rupiah Bergerak di Dua Level dalam Sesi Pagi
- Pembukaan pasar spot: melemah 0,18% ke Rp17.724/US$
- Pukul 09:10 WIB: melemah 0,24% ke Rp17.735/US$
- Indeks dolar AS: menguat ke 100,27
- Suku bunga acuan The Fed: naik 25 bps ke 3,75-4%
Pergerakan rupiah di dua level tersebut menunjukkan tekanan jual berlanjut setelah pembukaan. Bagi investor, pelemahan ini memperlebar ruang bagi aset berdenominasi dolar dan menekan imbal hasil instrumen rupiah jangka pendek.
Peluang Kenaikan Bunga Lanjutan Jadi Kunci Arah Rupiah
Pelaku pasar menempatkan peluang sekitar 50% untuk kenaikan suku bunga acuan The Fed pada Oktober. Jika ekspektasi itu menguat, tekanan terhadap rupiah dan mata uang Asia berpotensi berlanjut.
Sebaliknya, yen Jepang dan dolar Singapura mencatat penguatan terbatas. Dua mata uang itu menjadi pengecualian di tengah dominasi dolar AS terhadap kawasan.
Bagi pelaku bisnis, level Rp17.735 per dolar AS menjadi acuan penting untuk perhitungan biaya impor dan lindung nilai. Pergerakan selanjutnya akan bergantung pada data inflasi AS dan sinyal lanjutan dari Federal Reserve.