JAWA TENGAH — Pernyataan itu disampaikan Sumardji dalam diskusi PSSI Pers bertajuk "ASEAN Hyundai Cup 2026: Menjemput Gelar Pertama Indonesia" di Jakarta, Kamis (3/7/2026). Di hadapan awak media, ia menegaskan bahwa status runner-up enam kali justru menjadi bukti betapa sulitnya turnamen ini dimenangkan.
"Kenapa? Buktinya, sampai sekarang kita belum pernah juara," ujar Sumardji yang juga anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI.
"Itu kan bukti bahwa ini bukan, kalau orang mengatakan ini 'ecek-ecek' atau 'chiki' dan lain sebagainya, kalau saya berbalik, tidak demikian," imbuhnya.
Catatan sejarah menjadi senjata utama Sumardji. Sejak Indonesia merdeka, tak satu pun gelar Piala AFF berhasil dibawa pulang. Capaian terbaik Skuad Garuda hanya enam kali menjadi finalis, terakhir pada edisi 2020 lalu.
Meski turnamen baru akan bergulir pada 24 Juli hingga 26 Agustus 2026, PSSI sudah bergerak cepat. Pemusatan latihan (TC) dijadwalkan mulai 5 Juli 2026 di Bali. Sebanyak 50 pemain akan dipanggil dan dibagi ke dalam dua gelombang.
Menariknya, persiapan ini tetap berjalan serius meski sejumlah pemain dipastikan absen. "Ya, karena buktinya sampai sekarang, sejak Indonesia merdeka sampai dengan sekarang, sudah berapa tahun, tidak pernah mendapatkannya," ucap Sumardji menekankan urgensi persiapan.
Bagi Sumardji, anggapan bahwa Piala AFF adalah turnamen kelas dua adalah kekeliruan besar. Ia melihatnya sebagai panggung pembuktian tertinggi di Asia Tenggara.
"Saya menganggap bahwa Piala AFF adalah, boleh dikatakan, piala bergengsi. Piala bergengsi di Asia Tenggara. Ini turnamen yang sangat bergengsi di Asia Tenggara," jelasnya.
"Jadi, mungkin kalau yang lain menilai bahwa ini tidak ada nilai, bagi saya itu sangat tinggi nilainya," pungkasnya.