BATANG — Tembok-tembok di sudut kota kerap dipandang sebelah mata. Namun bagi Syaiful Bassyar, Nico Aryo Pradita, dan Nasrul Khaq, kanvas raksasa itu justru menjadi ruang paling jujur untuk menyuarakan kegelisahan. Lewat komunitas Mural Jaya Abadi (Muryadi), mereka membuktikan bahwa mural bisa menjadi alat kritik yang komunikatif sekaligus membawa pulang piala.
Prestasi terbaru mereka datang dari dua ajang bergengsi. Pertama, juara pertama Festival Rupiah Berdaulat Indonesia (FERBI) yang digelar Bank Indonesia di Jakarta. Kedua, juara pertama Harmony of Solo dengan tema keharmonisan toleransi beragama.
“Setiap tema harus dipahami terlebih dahulu. Mural bukan sekadar gambar, tetapi media untuk menyampaikan pesan dan kritik yang membangun,” ujar Nico Aryo Pradita usai menghadiri Batang Art Festival (BAF) ke-7 di Jalan Veteran Batang, Minggu (28/6/2026).
Menurut Nico, kekuatan utama mural justru terletak pada kemampuannya menyampaikan kritik tanpa harus memicu gesekan. Lewat visual, pesan-pesan keras bisa dicerna tanpa perlu debat panjang. Ia mencontohkan, isu sosial seperti kemiskinan, ketimpangan, hingga toleransi bisa diangkat tanpa kata-kata yang menusuk.
“Yang paling penting adalah bagaimana pesan itu bisa dipahami masyarakat. Teknik melukis juga harus terus diasah agar karya semakin berkualitas,” katanya.
Proses kreatif mereka tidak main-main. Sebelum memegang kuas, para muralis ini terlebih dahulu mendalami tema dan pesan yang ingin disampaikan. Mereka meyakini, mural yang baik lahir dari pemahaman konteks, bukan sekadar estetika permukaan.
Komunitas Muryadi sendiri lahir dari kegelisahan akan minimnya ruang ekspresi di Batang. Kini, justru dari tembok-tembok itulah mereka mendapatkan pengakuan nasional. Batang Art Festival ke-7 yang baru digelar menjadi salah satu panggung mereka untuk menunjukkan bahwa seni jalanan bisa naik kelas.