JAWA TENGAH — Ketua DPP PDIP Andreas Hugo Pareira angkat bicara soal ritual adat injak kepala kerbau yang dijalani Presiden ketujuh RI Joko Widodo dalam kunjungannya ke Lampung. Andreas menegaskan bahwa tradisi tersebut tidak bisa ditafsirkan sebagai simbol kenaikan level politik Jokowi dari lokal ke nasional. “Itu kan tradisi, bukan naik kelas. Masa naik kelas diukur dari injak kerbau,” ujarnya.
Menurut Andreas, PDIP memandang ritual tersebut murni sebagai penghormatan adat kepada tamu. Ia menolak spekulasi yang menghubungkan kegiatan itu dengan dinamika politik menjelang Pemilu 2024. “Jangan semua hal dipolitisasi. Ini budaya, bukan kontestasi,” kata Andreas dalam pernyataan yang diterima redaksi.
Pernyataan ini muncul setelah publik ramai memperbincangkan momen Jokowi mengikuti prosesi adat di Lampung. Sebagian kalangan menilai langkah itu sebagai upaya Jokowi mendekati basis PDIP di luar Jawa. Namun, Andreas membantah keras tafsir tersebut.
PDIP memiliki sejarah panjang dalam mengelola simbol-simbol adat dan budaya. Partai berlambang banteng ini kerap menggunakan pendekatan kultural untuk merawat basis massa. Namun, dalam kasus Jokowi, partai tampak sengaja menjaga jarak agar tidak terjadi tumpang tindih narasi dengan partai lain.
“Kami tidak ingin tradisi dijadikan alat politik praktis. Apalagi untuk mengukur level seorang tokoh,” tambah Andreas. Ia menekankan bahwa PDIP tetap menghormati Jokowi sebagai kader terbaik, namun tidak serta-merta menyetujui pembacaan politik terhadap setiap langkahnya.
Respons ini juga memberi sinyal bahwa PDIP belum sepenuhnya berdamai dengan manuver politik Jokowi pasca-2024. Meski secara formal Jokowi masih kader, hubungan keduanya kerap diuji oleh perbedaan sikap dalam sejumlah kebijakan. Sikap santai Andreas terhadap ritual adat di Lampung bisa dibaca sebagai upaya partai untuk tidak terjebak dalam permainan simbol yang bisa merugikan posisi tawar PDIP ke depan.
Sejauh ini, belum ada pernyataan resmi dari Jokowi atau pihak Istana mengenai ritual tersebut. Namun, publik menanti apakah akan ada langkah lanjutan dari Jokowi untuk memperkuat jejaring politiknya di luar partai asalnya, terutama di daerah-daerah yang menjadi basis PDIP.