KLATEN — Bukan sekadar minyak goreng murah, MinyaKita yang beredar di Jogonalan justru membawa petaka. Warga yang mengonsumsinya mengeluhkan tenggorokan gatal dan batuk. Bau menyengat seperti minyak tanah tercium jelas saat minyak dipanaskan. Pemdes Prawatan pun bergerak cepat dengan menarik semua paket yang sudah terdistribusi.
Keluhan mulai muncul setelah warga menggunakan MinyaKita untuk memasak. Alih-alih menggoreng dengan normal, wajan justru mengeluarkan asap putih dan bau yang menusuk. Beberapa warga yang nekat menyantap olahannya langsung merasakan gatal di tenggorokan.
“Baru sekali pakai, langsung terasa aneh. Tenggorokan saya perih, batuk-batuk,” ujar seorang warga yang enggan disebutkan namanya.
Pemdes Prawatan kemudian menginstruksikan seluruh kadus dan RT untuk mengumpulkan kembali minyak yang sudah dibagikan.
Penarikan tidak hanya berlaku untuk kemasan utuh. Pemdes juga meminta warga mengembalikan sisa minyak yang sudah dipindahkan ke botol atau jeriken. Langkah ini dinilai penting untuk memastikan tidak ada lagi warga yang terpapar.
“Kami tarik semua, termasuk yang sudah dipakai dan disimpan di wadah lain. Lebih aman begini,” kata Kepala Desa Prawatan.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan warga yang dilarikan ke puskesmas. Namun, Pemdes tetap mengimbau warga yang merasakan gejala berkepanjangan untuk segera memeriksakan diri.
Sampel MinyaKita yang ditarik rencananya akan dikirim ke laboratorium untuk diuji kandungannya. Pemdes Prawatan belum bisa memastikan apakah minyak tersebut terkontaminasi selama proses produksi atau distribusi.
Warga yang sudah terlanjur membeli berharap ada kompensasi. “Kalau bisa diganti, lumayan. Tapi yang penting kesehatan dulu,” ucap seorang ibu rumah tangga di Jogonalan.
Peristiwa ini menjadi pengingat bagi konsumen untuk lebih waspada terhadap produk bersubsidi yang beredar di pasaran. Pemdes berjanji akan mengawal kasus ini hingga tuntas.