SEMARANG — Di tengah dinamika urbanisasi yang kerap memicu gesekan sosial, Kota Semarang disebut berhasil mempertahankan bahkan memperkuat harmoni budayanya. Pengamat kebijakan publik, Hendardji Soepandji, menilai capaian ini tidak lepas dari peran Wali Kota Agustina dalam merawat mozaik budaya yang sudah menjadi DNA kota.
“Kota Semarang lahir dari perjumpaan berbagai budaya,” ujar Hendardji dalam sebuah diskusi di Semarang, belum lama ini. Menurut dia, keberagaman itu bukan sekadar warisan, melainkan kekuatan utama yang mendorong pembangunan di berbagai sektor.
Hendardji menjelaskan, harmoni yang terjaga menjadi modal sosial yang langka di era modern. Di banyak kota besar, segregasi berbasis etnis dan agama masih menjadi pekerjaan rumah, namun Semarang dinilai mampu menjadikan perbedaan sebagai perekat.
“Ini bukan soal seremoni, tapi bagaimana kebijakan pemkot mampu mengakomodasi semua kelompok tanpa ada yang merasa terpinggirkan,” tambahnya. Ia mencontohkan, perayaan hari besar keagamaan dan festival budaya di Semarang kerap dihadiri lintas komunitas, bukan sekadar formalitas.
Wali Kota Agustina, dalam kesempatan terpisah, menegaskan bahwa prinsip keberagaman itu sudah menjadi napas pemerintahannya. Ia menyebut, perjumpaan budaya terjadi di ruang-ruang publik paling sederhana, seperti warung kopi dan pasar tradisional, hingga ke meja musrenbang.
“Kami ingin setiap warga merasa memiliki kota ini, apa pun latar belakangnya,” kata Agustina. Ia menambahkan, pendekatan inklusif itu yang kemudian melahirkan kebijakan-kebijakan yang pro-kerukunan, seperti pengelolaan tempat ibadah dan ruang publik yang setara.
Menurut Hendardji, kekuatan Semarang juga terletak pada kemampuannya belajar dari sejarah. Sebagai kota pelabuhan yang sudah berusia berabad-abad, Semarang sejak dulu menjadi titik temu pedagang Arab, Tionghoa, Eropa, dan pribumi. Jejak itu masih terlihat jelas di kawasan Kota Lama dan Pecinan.
“Apa yang dilakukan Wali Kota Agustina adalah meneruskan tradisi panjang itu, bukan memutuskannya. Ini penting karena pembangunan tanpa akar budaya hanya akan melahirkan kota yang dingin dan tanpa jiwa,” ujar Hendardji.
Ia berharap, capaian ini tidak hanya menjadi catatan prestasi, tetapi juga menjadi contoh bagi daerah lain di Jawa Tengah. Menurutnya, harmoni budaya bukanlah sesuatu yang instan, melainkan hasil dari kebijakan yang konsisten dan kepemimpinan yang merangkul semua pihak.