TEMANGGUNG — Harga cabai rawit di tingkat petani Kabupaten Temanggung naik signifikan dalam sepekan terakhir. Dinas Ketahanan Pangan Pertanian dan Perikanan (DKPPP) setempat mencatat lonjakan dari Rp50.000 menjadi Rp65.000 per kilogram.
Kepala Bidang Hortikultura dan Perkebunan DKPPP Kabupaten Temanggung, Sumarno, mengatakan penyebab utama kenaikan ini adalah penurunan produksi akibat cuaca hujan yang mengguyur kawasan sentra cabai. "Hasil panen menurun dampak cuaca hujan, sementara permintaan pasar tetap tinggi," ujarnya, Senin (18/5).
Bagi petani, kenaikan ini menjadi angin segar setelah sebelumnya harga sempat terpuruk di kisaran Rp35.000 hingga Rp40.000 per kilogram. Rohim, petani asal Desa Menggoro, Kecamatan Tembarak, mengaku harga saat ini sangat menguntungkan.
"Sekarang harganya Rp65.000 per kilogram, dua bulan kemarin malah tembus Rp73.000 per kilogram. Dengan harga saat ini para petani sangat diuntungkan," kata Rohim.
Meskipun produksi menurun, Sumarno memastikan ketersediaan cabai rawit di pasaran masih mencukupi. Hal itu didukung oleh luas lahan tanam yang mencapai lebih dari 12 ribu hektare pada tahun 2026 ini.
Berdasarkan data per April 2026, produksi cabai rawit mencapai 486.186 kuintal, disusul cabai keriting sebanyak 209.430 kuintal, dan cabai besar sebanyak 32.775 kuintal. "Untuk ketersediaan cabai masih bisa mencukupi, utamanya untuk cabai rawit, karena pertamanan sudah mulai panen," jelas Sumarno.
Menghadapi kondisi cuaca yang tidak menentu, DKPPP mengimbau petani untuk lebih intensif dalam merawat tanaman. Upaya itu meliputi pemupukan yang tepat, pengendalian hama, serta penyesuaian pola tanam dengan kondisi cuaca.
Langkah ini dinilai penting untuk menjaga produktivitas dan memastikan pasokan cabai di pasaran tetap stabil. "Kami minta petani lebih intensif merawat tanamannya agar hasil pertanian tetap optimal," pungkas Sumarno.