Donald Trump Tolak Proposal Damai Iran, Konflik Militer Berpotensi Pecah Kembali

Penulis: Hendri Saputra  •  Sabtu, 02 Mei 2026 | 23:21:24 WIB
Donald Trump menolak proposal damai Iran yang disampaikan melalui mediator Pakistan.

Donald Trump menyatakan ketidakpuasannya terhadap proposal negosiasi terbaru dari Iran yang disampaikan melalui mediator Pakistan pada Kamis malam. Ketegangan ini memicu kekhawatiran akan pecahnya kembali konflik militer setelah gencatan senjata yang berlangsung sejak April lalu terancam berakhir tanpa kesepakatan.

Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran kembali memasuki fase kritis setelah Presiden Donald Trump secara terbuka menolak draf perdamaian terbaru. Langkah ini memicu reaksi keras dari petinggi militer Teheran yang memprediksi pertempuran fisik berisiko pecah dalam waktu dekat.

Iran mengirimkan draf negosiasi baru kepada Pakistan sebagai mediator pada Kamis (11/4) malam waktu setempat. Meskipun detail isi dokumen tersebut belum dipublikasikan oleh media pemerintah Iran, respons negatif dari Gedung Putih menunjukkan adanya jurang perbedaan yang lebar antara kedua belah pihak.

Konflik bersenjata yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran ini sebenarnya telah dimulai sejak akhir Februari 2026. Namun, intensitas serangan sempat mereda dan berada dalam status on hold sejak 8 April lalu, menyusul upaya diplomasi yang hingga kini belum membuahkan hasil konkret.

Trump Sebut Kepemimpinan Iran Tidak Solid

Berbicara kepada awak media, Donald Trump menegaskan bahwa tawaran yang diajukan pihak Iran saat ini jauh dari ekspektasi Washington. Ia menuding adanya ketidaksepakatan internal di jajaran elit politik Teheran sebagai penghambat utama proses diplomasi.

"Saat ini saya tidak puas dengan apa yang mereka tawarkan," ujar Trump. Ia menambahkan bahwa kebuntuan ini berakar dari "perselisihan hebat" di dalam kepemimpinan Iran sendiri.

"Apakah kita ingin pergi dan menghancurkan mereka selamanya, atau kita ingin mencoba membuat kesepakatan? Secara kemanusiaan, saya lebih memilih opsi kedua," lanjut Trump memberikan pilihan retoris terkait langkah militer AS selanjutnya.

Respons Militer Iran dan Ancaman Perang Terbuka

Pernyataan Trump langsung direspons oleh petinggi militer Iran pada Sabtu pagi. Mohammad Jafar Asadi, pejabat senior dalam komando pusat militer Iran, menyatakan bahwa kesiapan tempur kini kembali ditingkatkan menyusul kegagalan komunikasi diplomatik tersebut.

"Konflik baru antara Iran dan Amerika Serikat sangat mungkin terjadi," tegas Mohammad Jafar Asadi sebagaimana dikutip oleh kantor berita Fars.

Di sisi lain, Ayatollah Mojtaba Khamenei dilaporkan sedang berupaya menekan dampak perang terhadap ekonomi Iran yang kian terpuruk. Tekanan dari parlemen AS juga semakin kuat, mendesak Trump untuk segera menyelesaikan konflik ini guna menghindari ketidakstabilan pasar global yang lebih luas.

Dampak Terhadap Stabilitas Global dan Indonesia

Ketidakpastian di Teluk Persia ini diprediksi akan memberikan dampak domino pada stabilitas ekonomi internasional, termasuk Indonesia. Sebagai negara importir minyak, eskalasi militer di wilayah tersebut berisiko memicu fluktuasi harga BBM (Bahan Bakar Minyak) dan mengganggu jalur logistik global.

Hingga saat ini, belum ada jadwal pasti mengenai putaran negosiasi ulang di Pakistan. Jika kesepakatan tidak segera tercapai, status gencatan senjata yang rapuh ini dikhawatirkan akan runtuh sebelum akhir bulan, memaksa pasar global bersiap menghadapi skenario terburuk.

Para pengamat memprediksi posisi tawar Iran akan sangat bergantung pada seberapa besar dukungan domestik terhadap Ayatollah Mojtaba Khamenei dalam menghadapi tekanan ekonomi. Sementara itu, Washington tampaknya tetap pada posisi tidak akan menerima "perdamaian yang dipaksakan" tanpa konsesi besar dari Teheran.

Reporter: Hendri Saputra
Back to top