JAWA TENGAH — Nilai tukar rupiah melemah 12 poin atau 0,07 persen ke level Rp17.928 per USD pada pembukaan perdagangan pagi ini, dari posisi penutupan sebelumnya Rp17.916 per USD. Pelemahan terjadi saat pelaku pasar mencermati kebuntuan diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran yang belum menemukan titik temu soal cara mengakhiri konflik. Analis memprediksi rupiah bergerak fluktuatif dan ditutup melemah di rentang Rp17.910 hingga Rp18.000 per USD.
Data Bloomberg menunjukkan rupiah berada di Rp17.928 per USD hingga pukul 09.28 WIB. Sementara itu, kutipan Yahoo Finance pada waktu yang sama menempatkan mata uang Garuda di level Rp17.893 per USD.
Analis mata uang Ibrahim Assuabi menyebut pergerakan rupiah hari ini dipengaruhi sentimen hubungan Iran dan Amerika Serikat yang masih berselisih soal jalan menuju perdamaian.
Kebuntuan Diplomasi AS-Iran Jadi Pemicu Utama
Seorang pejabat senior Iran menyatakan Teheran tengah meninjau tanggapan Washington terhadap usulan perdamaiannya. Usulan itu memprioritaskan pencabutan blokade angkatan laut AS di pelabuhan Iran serta pembukaan kembali Selat Hormuz.
Pembukaan Selat Hormuz dan pencabutan blokade sempat dibahas dalam pembicaraan tidak langsung pada Selasa. Namun Kepala Keamanan Iran Mohsen Rezaei menegaskan Selat Hormuz tidak akan dibuka kembali selama syarat-syarat Iran belum dipenuhi.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan kesepakatan dengan Iran akan membutuhkan kerja keras dalam jangka waktu tertentu. Ia juga menyebut Presiden Donald Trump masih memiliki opsi militer.
The Fed Sinyalkan Suku Bunga Masih Bisa Naik
Tekanan terhadap rupiah bertambah dari sisi kebijakan moneter Amerika Serikat. Gubernur The Fed Michael Barr menyatakan penyesuaian kebijakan lebih lanjut mungkin diperlukan untuk mengendalikan inflasi.
Presiden Fed Richmond Tom Barkin dan Presiden Fed Boston Susan Collins sama-sama mendukung kenaikan suku bunga dalam waktu dekat dengan alasan tekanan inflasi yang belum mereda.
Menurut alat CME FedWatch, peluang bank sentral AS menaikkan suku bunga 25 basis poin pada pertemuan Oktober mencapai 69,7 persen. Angka itu melonjak dari 48,7 persen sepekan sebelumnya.
BI Diminta Waspadai Risiko Eksternal yang Menumpuk
Para ekonom memperingatkan langkah Bank Indonesia yang mempertahankan suku bunga acuan selama tiga bulan berturut-turut pada September mungkin hanya jeda sementara. Risiko eksternal masih tinggi akibat imbal hasil global yang meningkat, harga minyak yang fluktuatif, dan tekanan geopolitik.
Pembuat kebijakan juga menghadapi tantangan berupa perlambatan pertumbuhan, belanja rumah tangga yang lesu, dan sentimen pasar yang rentan. Rupiah masih rawan terhadap kembali menguatnya dolar AS dan arus keluar modal asing.
Jika tekanan terhadap mata uang kawasan berlanjut, BI perlu menjaga agar pelemahan rupiah tidak berkembang menjadi tekanan inflasi yang lebih persisten. Kenaikan harga minyak di atas USD100 per barel berpotensi menekan mata uang melalui meningkatnya biaya energi.
Fenomena El Nino turut meningkatkan risiko gangguan produksi dan pasokan pangan. Kombinasi faktor eksternal dan domestik itu membuat ruang bagi BI untuk melonggarkan kebijakan semakin sempit.
Ekonomi Domestik Disebut Masih Punya Daya Tahan
Di tengah tekanan eksternal, Ibrahim menilai perekonomian domestik Indonesia menunjukkan daya tahan yang mengesankan. Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi nasional sepanjang 2026 berada di kisaran 4,9 persen hingga 5,7 persen.
"Motor penggerak utama berasal dari konsumsi rumah tangga yang tetap kokoh, ditopang oleh stimulus fiskal pemerintah serta menguatnya keyakinan dan ekspektasi pendapatan masyarakat," papar Ibrahim.
Bagi pelaku pasar, pergerakan rupiah hari ini akan bergantung pada perkembangan diplomasi AS-Iran dan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed. Kedua faktor itu menjadi penentu arah arus modal asing ke pasar domestik.