SOLO — Digitalisasi manuskrip Karaton Kasunanan Surakarta resmi dimulai melalui kegiatan selamatan di Sasono Pustoko, Senin (28/9/2026). Manasa menggandeng Perpustakaan Nasional RI dan British Library dari Inggris untuk menggarap 21.000 halaman naskah kuno yang kondisinya terus menua.
Pengerjaan program ini direncanakan berlangsung sekitar dua tahun. Selain memindai isi naskah, tim juga melakukan pendataan, pembuatan metadata, dan penyusunan katalog.
Kerusakan fisik menjadi alasan utama percepatan program. Naskah yang tersimpan ratusan tahun di Sasono Pustoko rentan terhadap kelembapan, jamur, dan kerapuhan kertas.
Digitalisasi menjadi jalan tengah antara melestarikan bentuk fisik dan membuka akses seluas mungkin bagi masyarakat. Tanpa pemindahan ke format digital, risiko kehilangan isi naskah akibat kerusakan permanen sulit dihindari.
Ada tiga pekerjaan utama yang berjalan paralel. Pertama, pemindaian halaman naskah dalam resolusi tinggi. Kedua, pendataan dan pembuatan metadata untuk setiap koleksi.
Ketiga, penyusunan katalog digital yang memungkinkan penelusuran koleksi berdasarkan judul, kategori, atau kata kunci tertentu.
Manasa berperan sebagai pelaksana teknis di lapangan. Perpustakaan Nasional RI menyediakan dukungan kelembagaan dan standar pengelolaan naskah.
British Library dari Inggris terlibat dalam pendanaan dan pendampingan teknis. Pola kerja sama lintas negara ini lazim dipakai untuk proyek pelestarian warisan dokumenter yang volumenya besar.
Setelah rampung, peneliti tidak lagi perlu datang langsung ke Solo untuk membaca naskah asli. Akses digital memangkas biaya dan waktu, sekaligus mengurangi risiko kerusakan akibat penanganan fisik berulang.
Masyarakat umum juga bisa mempelajari isi manuskrip yang selama ini terbatas pada kalangan tertentu. Pembukaan akses ini berpotensi memunculkan kajian baru dari peneliti di luar lingkungan keraton.
Proyek dua tahun ini menjadi salah satu upaya terbesar pelestarian naskah kuno di Jawa Tengah dalam beberapa tahun terakhir.