SURAKARTA — Kenaikan peserta Solo Run Fest (SRF) 2026 dari 5.000 pelari pada 2025 menjadi 7.000 pelari tahun ini menegaskan posisi event lari sebagai magnet baru bagi sektor pariwisata dan ekonomi Kota Surakarta. Peserta SRF 2026 terbagi dalam kategori half marathon, 10K, dan 5K, mencakup elite runners, master, hingga pelajar.
Wali Kota Surakarta Respati Achmad Ardianto menyatakan SRF merupakan event tahunan dan sudah menjadi salah satu event flagship di kota itu. Menurut dia, event ini akan terus ditingkatkan dari sisi kualitas maupun jumlah peserta.
"Tahun depan lebih berkualitas lagi dan bisa menjadi promosi pariwisata Jawa Tengah. Kita sudah kunci emapt event lari di Surakarta, yaitu Solo Run Fest, Mangkunagaran Run, Run for Humanity, dan Soekarno Run. Sehingga ekonomi terus bergulir sampai miliaran setiap event," jelas Respati usai merampungkan SRF 2026 kategori 5K.
Respati menyebut empat event lari yang sudah terkunci sebagai agenda rutin di Surakarta, yakni Solo Run Fest, Mangkunagaran Run, Run for Humanity, dan Soekarno Run. Kepuasan masyarakat dan peserta disebut menjadi kunci peningkatan event tersebut setiap tahunnya.
SRF 2026 mengusung tema sport tourism, sejalan dengan arah Provinsi Jawa Tengah yang ingin menumbuhkan pariwisata, ekonomi, lapangan kerja, dan UMKM. "Kami mengusung tema sport tourism, selaras dengan Provinsi Jawa Tengah yang akan menumbuhkan pariwisata, ekonomi, dan menciptakan lapangan kerja, serta UMKM bahagia," kata Respati.
Sepanjang Januari sampai September 2026, puluhan event lari terselenggara di Jawa Tengah, mulai dari skala komunitas, fun run, run for charity, hingga nasional dan internasional. Pada September 2026 saja, gelaran berlangsung di Kota Semarang, Kabupaten Semarang, Kabupaten Banyumas, dan Kota Surakarta.
Pada hari yang sama dengan SRF 2026, Gajah Trail Run (GTR) Ultra digelar di Kabupaten Semarang dengan rute melintasi Gunung Gajah, Gunung Telomoyo, dan Gunung Kendil. Di Kota Semarang juga berlangsung Sultan Agung Fun Run dengan titik start di Kantor Gubernur Jawa Tengah.
Pekan sebelumnya, Minggu, 20 September, Bank Jateng Friendship Run 2026 digelar di Kota Semarang sebagai ajang pemanasan Borobudur Marathon 2026. Event itu diikuti sekitar seribu pelari dari berbagai kalangan, setelah event serupa digelar pada Agustus di Kabupaten Boyolali.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi dan Sekda Jawa Tengah Sumarno tercatat mengikuti beberapa event lari sepanjang tahun ini. Ahmad Luthfi menilai gelaran olahraga lari menghidupkan pariwisata olahraga sekaligus menggerakkan ekonomi daerah.
"Kegiatan lari itu untuk hidup sehat, selain itu UMKM kita dapat berkembang. Ini bentuk pola hidup sehat di Provinsi Jawa Tengah dan seluruh daerah," katanya beberapa waktu lalu.
Sumarno menyatakan banyaknya penyelenggaraan event lari di berbagai daerah merupakan bagian dari upaya mengembangkan sport tourism di Jawa Tengah. "Kita penginnya nanti di seluruh Jawa Tengah ada event trail run. Ini bagian kita untuk pengembangan sport tourism di Jawa Tengah," kata Sumarno.
Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Aria Chandra Destianto berharap lebih banyak event serupa digelar di Jawa Tengah. Pemprov Jawa Tengah menyatakan akan mendukung penuh seluruh event lari dan sport tourism di berbagai daerah.
"Tidak hanya di Solo dan Semarang, di kota-kota lain kami tunggu kegiatan serupa," katanya.
Dari sisi peserta, Grecia Hutapea asal Jakarta mengaku SRF 2026 berlangsung nyaman meski jalur lari melintasi kawasan Car Free Day (CFD) di Jalan Slamet Riyadi. Ia menilai rute lebih teduh karena banyak pepohonan dan titik cheering yang tersebar di sepanjang jalur.
"Lari di sini itu juga sambil lihat budayanya, sempat lewat Mangkunegaran juga," ujar Grecia yang ikut kategori 10K.