SUKOHARJO — Angka 6,69 juta ton GKG itu disampaikan Ahmad Luthfi saat panen raya padi di Desa Gentan, Kecamatan Bendosari, Kabupaten Sukoharjo, Rabu (24/6/2026). Ia turun langsung menggunakan combine harvester dan meninjau pengolahan lahan pascapanen.
Pemprov Jawa Tengah telah menerima sekitar 17 ribu unit pompa dari pemerintah pusat. Pompa itu akan didistribusikan ke daerah-daerah yang membutuhkan, terutama untuk mengairi sawah saat musim kemarau.
“Yang penting air sampai ke sawah dan kebutuhan petani terpenuhi,” tegas Luthfi di hadapan petani dan pemangku kepentingan setempat.
Luthfi meminta seluruh kepala daerah di Jawa Tengah segera melakukan pemetaan wilayah rawan kekeringan. Langkah ini dianggap krusial agar target swasembada pangan tidak meleset.
“Ke depan tantangannya adalah perubahan musim dan musim kemarau yang panjang. Karena itu seluruh bupati dan wali kota harus melakukan mapping wilayah yang terdampak kekeringan,” ujarnya.
Selain pompa, Pemprov menyiapkan pipanisasi, sumurisasi, dan pemanfaatan sumber air baku sebagai langkah antisipasi.
Dalam dialog bersama petani, sejumlah aspirasi mengemuka. Mulai dari kebutuhan pasokan air untuk musim tanam ketiga (MT III), jaringan listrik untuk sumur pertanian, hingga bantuan combine harvester dan alat pengolah tanah.
Petani juga menyampaikan perlunya perbaikan jalan usaha tani dan saluran irigasi. Menanggapi hal itu, Luthfi memastikan penggunaan combine harvester milik provinsi akan diatur secara bergilir. Pemprov juga akan mengusulkan tambahan bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) ke Kementerian Pertanian.
“Jawa Tengah hari ini sudah memenuhi 6,69 juta ton. Target nasional 10,5 juta ton harus kita penuhi di akhir tahun,” kata Luthfi.
Panen raya di Sukoharjo tidak sekadar menjadi ajang syukur atas hasil produksi, tetapi juga momentum menyerap aspirasi petani sekaligus menyusun strategi menghadapi kemarau panjang. Pemprov optimistis sisa target 3,87 juta ton GKG bisa tercapai jika distribusi air dan alsintan berjalan lancar hingga akhir tahun.