JAWA TENGAH — Prabowo tiba di lokasi acara dengan baju safari khaki dan peci, langsung disambut Rais Aam PBNU Miftachul Akhyar, Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf, serta Menteri Agama Nasaruddin Umar. Dalam pidato penutupannya, Kepala Negara berkelakar bahwa banyak pihak seharusnya belajar politik dari NU karena organisasi itu mampu menempatkan kader di semua partai dan lembaga pemerintahan.
Presiden menyoroti keunggulan sistem kaderisasi NU yang dinilainya tak terkalahkan. “NU memang hebat. Selalu berada di mana-mana ya kan. Semua partai, NU hadir,” ujar Prabowo, disambut tawa hadirin.
“Jadi NU nggak pernah kalah. Hebat, hebat. Kalau belajar politik seharusnya dari NU,” katanya.
Prabowo juga menyebut sejumlah menteri berlatar belakang NU di Kabinet Merah Putih, seperti Menteri ATR/BPN Nusron Wahid dan Menteri PPPA Arifatul Choiri Fauzi, sebagai bukti nyata dominasi kader NU di eksekutif.
Di luar pujian terhadap organisasi, Presiden mengungkapkan kedekatan personalnya dengan NU. Ia mengaku merasa nyaman dan aman di tengah keluarga besar NU karena sejak kecil bertetangga dengan keluarga Presiden ke-4 Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di Jakarta. “Eyang saya, eyang putri saya, memang dari NU,” kata Prabowo.
Prabowo juga memuji lagu tradisi NU, ‘Ya Lal Wathon’, yang menurutnya mengandung nilai cinta Tanah Air dan telah dinyanyikan sebelum Indonesia merdeka. Ia bahkan melempar candaan bahwa warga NU mengepalkan tangan saat menyanyikan lagu itu, seperti prajurit TNI saat salam komando. “Ini luar biasa, ini belum ada Kopassus, NU sudah lebih dari Kopassus,” kelakarnya.
Dalam pidatonya, Prabowo menekankan peran strategis kiai dan ulama sebagai tokoh yang paling dekat dengan rakyat, terutama di pedesaan. Menurutnya, para ulama merasakan langsung persoalan yang dihadapi kelompok masyarakat lapisan bawah.
“Karena itu, para kiai, para ulama paham, mengerti apa yang dirasakan rakyat. Para kiai dan para ulama merasakan apa yang dirasakan rakyat paling bawah,” kata Prabowo.
Ia menyebut kesamaan itu dengan aparat negara seperti tentara dan polisi yang juga berasal dari rakyat. “Ulama, pemerintahan, tentara, kepolisian sesungguhnya paham dan mengerti perasaan rakyat,” lanjutnya.
Presiden pun melontarkan candaan tentang hierarki kepatuhan. “Harus patuh dengan kiai kalau di sini. Di Istana, kiai yang patuh dengan saya,” ucapnya disambut gelak tawa peserta Munas.
Acara penutupan Munas Alim Ulama dan Konbes NU ini turut dihadiri Ketua MPR Ahmad Muzani, Menteri Koordinator Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono, Menteri Koordinator Pangan Zulkifli Hasan, Mensesneg Prasetyo Hadi, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, dan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa.