Phapros Semarang Siapkan 4 Produk Baru dan Target Tumbuh 20 Persen di 2026 Amid Pelemahan Rupiah

Penulis: Usman Harun  •  Sabtu, 20 Juni 2026 | 17:48:02 WIB
Phapros Semarang siapkan empat produk baru untuk memperkuat pasar pada 2026.

SEMARANG — PT Phapros Tbk memacu efisiensi dan inovasi sebagai jurus menghadapi tekanan nilai tukar rupiah yang membuat biaya impor bahan baku farmasi membengkak. Perusahaan yang bermarkas di Semarang ini menargetkan pertumbuhan penjualan di atas 20 persen pada 2026, didorong oleh peluncuran produk baru dan penguatan lini produksi.

Empat Produk Baru Siap Meluncur

Direktur Pemasaran Phapros, Maraja Jeson Siregar, menyebutkan bahwa perusahaan telah menyiapkan empat produk baru yang akan hadir pada 2026. Produk tersebut mencakup berbagai kategori, mulai dari vitamin hingga antibiotik.

“Di tahun 2026 ada empat produk baru Phapros, mulai dari vitamin sampai antibiotik,” ungkap Maraja di Semarang, Sabtu (20/6/2026).

Pengembangan produk baru menjadi bagian dari strategi memperluas pasar dan meningkatkan daya saing di tengah ketatnya regulasi dari BPOM dan Kementerian Kesehatan.

Renegosiasi Pemasok dan Efisiensi Produksi

Ida Rahmi Kurniasih menjelaskan bahwa sebagian bahan baku Phapros masih berasal dari luar negeri, baik secara langsung maupun tidak langsung. Kondisi ini membuat perusahaan rentan terhadap fluktuasi nilai tukar.

“Pelemahan rupiah berimbas untuk Phapros. Sudah ada sebagian bahan baku kami yang impor secara langsung maupun tidak langsung, sehingga mengalami kenaikan harga,” ujarnya.

Untuk menekan biaya, Phapros melakukan renegosiasi harga dengan pemasok bahan baku, mencari alternatif supplier lain, dan memperkuat kontrak jangka panjang. Di lini produksi, perusahaan mengandalkan teknologi untuk menekan biaya sekaligus menjaga kualitas produk.

“Kami melakukan renegosiasi harga dengan supplier bahan baku, mencari alternatif supplier lain, dan bagaimana menekan biaya produksi agar lebih efisien dengan teknologi,” jelas Ida.

Obat TB Hanya Diproduksi Dua Perusahaan

Maraja menyoroti tantangan dalam penyediaan obat tuberkulosis (TB) yang memerlukan proses panjang, termasuk uji bioekuivalensi (BE). Saat ini, hanya Phapros dan Kimia Farma yang menjadi pemasok obat TB untuk program pemerintah pusat.

“Obat TB tidak mudah disediakan karena harus uji BE. Saat ini penyedianya hanya Kimia Farma dan Phapros. Pemerintah membuka tender program pusat setiap tahun dengan jumlah kebutuhan yang berbeda,” jelasnya.

Kolaborasi dengan Unnes untuk Inovasi

Phapros juga menggandeng Universitas Negeri Semarang (Unnes) dalam berbagai program kolaborasi. Kerja sama ini diharapkan mampu menghasilkan solusi baru dalam pengembangan produk dan peningkatan proses manufaktur.

“Inovasi adalah keharusan dalam sistem continuous improvement. Kami tujukan ke arah produk yang lebih baik dan tidak impor, sehingga tidak memberatkan pasien,” kata Maraja.

Ke depan, perusahaan fokus mengejar efisiensi harga pokok produksi (HPP) serta penghematan energi untuk menjaga daya saing dan memperkuat peran industri farmasi nasional.

Reporter: Usman Harun
Sumber: jatengnews.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top