JAWA TENGAH — Kepala Stasiun Geofisika Kelas III Malang, Ricko Kardoso, mengkonfirmasi potensi gempa darat magnitudo 7 akibat Sesar Kendeng. Data ini merujuk pada Pusat Studi Gempa Nasional (PuSGeN) 2024 yang menggabungkan Sesar Kendeng, Sesar Baribisa, dan Sesar Semarang dalam satu sistem bernama Java Back-arc Thrust.
“Magnitudo tertarget yang dimungkinkan terjadi sebagai skenario terburuk dari tiap segmen sesar aktif bervariasi magnitudo enam sampai tujuh,” kata Ricko saat dikonfirmasi, Jumat (19/6/2026).
Sesar Kendeng terbagi menjadi enam segmen utama yang melintasi kawasan padat penduduk. Segmen Demak, Purwodadi, Cepu, Blumbang (Lamongan), Segmen Surabaya yang melintasi jantung kota, dan Segmen Waru yang melewati Sidoarjo.
Secara administratif, jalur sesar ini meliputi Salatiga, Grobogan, Blora, Madiun, Nganjuk, Jombang, Bojonegoro, Lamongan, Mojokerto, Sidoarjo, hingga Surabaya. Ricko menyebut pergerakan sesar ini sangat lambat, sekitar 5 milimeter per tahun, dengan periode ulang gempa yang panjang.
Catatan sejarah menunjukkan Sesar Kendeng pernah memicu gempa besar yang merusak. Pada 1836 dan 1837, gempa meluluhlantakkan Mojokerto dan Ploso, Jombang, dengan estimasi kekuatan magnitudo 6 hingga 7 dalam skala modern.
Gempa susulan terjadi pada 1862 dan 1915 yang merusak wilayah Madiun. Pada 1867, gempa kuat mengguncang Surabaya. “Gempa besar merusak akibat sesar ini sebagian besar tercatat dalam sejarah masa lalu,” ujar Ricko.
Dalam beberapa tahun terakhir, BMKG mendeteksi aktivitas seismik berupa gempa dangkal berskala kecil hingga menengah dengan magnitudo 4 sampai 5 di sepanjang jalur sesar.
Informasi soal potensi gempa Sesar Kendeng ramai setelah unggahan akun Threads @hsuliz2021 meminta warga Bojonegoro, Pandeglang, Padang Pariaman, dan Simeulue waspada. Akun itu mengaitkan gempa Palu magnitudo 6,7 dengan potensi gempa susulan di Jawa.
Pakar Geologi ITS sekaligus peneliti senior Puslit MKPI ITS, Dr Ir Amien Widodo, menegaskan posisi Palu sangat jauh dari Pulau Jawa dan arah pergerakan sesar di Sulawesi tidak segaris dengan Jawa. Ia mengingatkan agar masyarakat tidak mudah terpancing informasi yang belum terverifikasi.
Ricko menekankan bahwa potensi gempa bukan untuk ditakuti, melainkan diantisipasi. “Kita jangan panik dengan angka-angka tersebut, tapi marilah kita meningkatkan kapasitas dengan mengetahui langkah-langkah sebelum, sesaat, dan setelah gempa,” jelasnya.
BMKG terus melakukan sosialisasi keselamatan gempa di wilayah-wilayah yang dilintasi Sesar Kendeng. Masyarakat diminta tetap tenang dan tidak menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya.