SALATIGA — Kekhawatiran terhadap anak-anak yang terus menunduk pada layar gawai mendorong seorang dosen UIN Salatiga meluncurkan inovasi pendidikan. Buku kurikulum PAUD bertajuk ruang musikal phygital resmi dirilis sebagai jawaban atas kebutuhan metode pembelajaran yang relevan di era digital.
Konsep phygital memadukan elemen fisik dan digital dalam satu ruang pembelajaran. Pendekatan ini mengubah tantangan digital menjadi peluang stimulasi tumbuh kembang anak.
Anak-anak tidak lagi pasif menatap layar. Mereka diajak bergerak aktif secara fisik, namun tetap cakap menggunakan teknologi digital. Metode ini menjadi solusi yang dibutuhkan pendidik agar anak tetap aktif sekaligus cakap digital.
Fenomena generasi menunduk menjadi perhatian serius para akademisi. Buku ini hadir sebagai respons, menawarkan pendekatan pembelajaran yang mengejar kecakapan digital sekaligus menjaga kesehatan fisik dan interaksi sosial anak sejak usia dini.
Para pendidik PAUD di Salatiga dan sekitarnya kini memiliki panduan konkret untuk menerapkan metode pembelajaran yang lebih seimbang. Kurikulum ini diharapkan diadopsi secara luas oleh lembaga pendidikan anak usia dini di Jawa Tengah.
Peluncuran buku ini merupakan langkah nyata sivitas akademika UIN Salatiga dalam berkontribusi pada dunia pendidikan dasar. Inovasi ini menjadi contoh bagaimana perguruan tinggi merespons isu sosial kontemporer melalui riset dan pengembangan kurikulum yang aplikatif.
Ke depannya, diharapkan semakin banyak institusi pendidikan yang mengimplementasikan konsep ruang musikal phygital ini. Dengan demikian, kekhawatiran akan dampak negatif digitalisasi pada anak-anak dapat diminimalisir sejak dini.