Selama bertahun-tahun, hampir setiap forum dan panduan 3D printing menekankan satu hal: filamen harus selalu kering. Penyimpanan dalam dry box dan proses pengeringan sebelum cetak dianggap wajib, terutama untuk material higroskopis seperti nylon atau PETG. Kelembapan diyakini menyebabkan gelembung, stringing, hingga permukaan cetak yang kasar.
Namun, seorang pengguna yang menulis pengalamannya justru membalikkan asumsi itu. Ia mengaku tidak pernah sekali pun mengeringkan filamennya—baik PLA, PETG, maupun TPU—dan hasil cetakannya tetap konsisten. Menurutnya, kualitas cetak lebih ditentukan oleh kalibrasi printer, suhu nozzle, dan kecepatan cetak dibandingkan kadar air dalam filamen.
Bukan berarti mitos ini sepenuhnya salah. Filamen yang terlalu lama terpapar udara lembap, terutama di lingkungan dengan kelembapan di atas 70%, memang bisa menurunkan kualitas cetak. Tanda-tandanya jelas: suara letupan kecil dari nozzle, permukaan cetak yang tidak rata, atau kekuatan lapisan yang berkurang.
Namun, untuk penggunaan rumahan atau hobi, banyak pengguna yang tidak pernah merasakan gejala itu. Kuncinya ada pada jenis material dan lingkungan. PLA, misalnya, relatif toleran terhadap kelembapan. Sementara nylon atau PVA sangat sensitif dan tetap membutuhkan perlakuan khusus.
Di Indonesia, di mana kelembapan rata-rata mencapai 80%, banyak pengguna 3D printing masih setia pada dry box. Beberapa bahkan menggunakan dehydrator atau oven khusus. Tapi ada juga yang mengaku tidak pernah repot-repot, dan hasilnya tetap memuaskan untuk proyek prototipe atau non-fungsional.
Pengalaman pengguna di atas menunjukkan bahwa aturan "wajib kering" bukanlah harga mati. Faktor seperti kualitas filamen pabrik, lama penyimpanan, dan suhu ruang juga ikut bermain. Sebuah filamen yang baru dibuka dari kemasan vakum, misalnya, sudah cukup kering untuk langsung dicetak tanpa perlakuan tambahan.
Tidak ada satu jawaban yang cocok untuk semua. Alih-alih mengikuti dogma, pengguna disarankan menguji sendiri filamen mereka. Cetak satu objek dengan filamen langsung dari kemasan, lalu bandingkan dengan hasil setelah dikeringkan. Jika tidak ada perbedaan, maka proses pengeringan mungkin tidak diperlukan untuk kasus Anda.
Yang jelas, mitos bahwa filamen kering adalah satu-satunya jalan menuju cetakan sempurna mulai goyah. Di era di mana banyak parameter bisa diatur lewat software slicing, kelembapan filamen hanyalah satu dari sekian banyak variabel—dan bukan yang terpenting.