73 Persen Lulusan SMK Matig Gresik Sudah Kantongi Pekerjaan Sebelum Wisuda, Ini Jurusan yang Paling Dicari

Penulis: Xander Situmorang  •  Senin, 01 Juni 2026 | 15:40:01 WIB
Lulusan SMK Matig Gresik 73 persen sudah bekerja sebelum wisuda berkat kurikulum yang terintegrasi dengan industri.

GRESIK — Angka 73 persen itu bukan sekadar statistik. Ia adalah hasil dari strategi yang dirancang sejak siswa masih duduk di bangku kelas X. SMK Matig Gresik, sekolah kejuruan di bawah naungan Muhammadiyah, menerapkan sistem pembelajaran yang menyelaraskan kurikulum dengan kebutuhan industri secara langsung.

Kepala SMK Matig Gresik, Ahmad Fauzi, mengatakan bahwa data ini didapat dari hasil penelusuran lulusan yang dilakukan pihak sekolah. "Dari total 287 siswa yang lulus tahun ini, 210 di antaranya sudah memiliki surat keterangan kerja atau kontrak dari perusahaan sebelum mereka menerima ijazah," ujarnya, Senin lalu.

Jurusan yang Paling Cepat Terserap Industri

Tidak semua jurusan di SMK Matig Gresik memiliki tingkat serapan yang sama. Jurusan Teknik Kendaraan Ringan (TKR) dan Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ) menjadi dua jurusan dengan permintaan tertinggi dari dunia usaha dan industri (DUDI). Sebagian besar lulusan dari kedua jurusan ini langsung direkrut oleh bengkel resmi dan perusahaan teknologi di kawasan Gresik, Surabaya, hingga Sidoarjo.

Menurut Ahmad Fauzi, kerja sama dengan lebih dari 50 perusahaan mitra menjadi kunci utama. Siswa tidak hanya magang di semester akhir, tetapi sudah diperkenalkan dengan standar kerja industri sejak kelas XI melalui program teaching factory. "Mereka sudah terbiasa dengan mesin, alat, dan etos kerja pabrik. Jadi saat lulus, mereka tidak perlu adaptasi lama," jelasnya.

Mengapa Angka Ini Penting bagi Pendidikan Vokasi?

Angka 73 persen lulusan yang sudah bekerja sebelum wisuda menjadi indikator keberhasilan pendidikan vokasi yang selama ini digadang-gadang pemerintah. Di tengah isu pengangguran lulusan SMK yang masih menghantui beberapa daerah, capaian SMK Matig Gresik menjadi contoh konkret bahwa link and match antara sekolah dan industri bisa dijalankan secara nyata.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat pengangguran terbuka (TPT) lulusan SMK secara nasional sempat menjadi yang tertinggi dibanding jenjang pendidikan lain. Namun, sekolah-sekolah yang serius menjalankan program pemagangan dan sertifikasi kompetensi justru menunjukkan hasil sebaliknya.

Di Gresik, kawasan industri yang terus tumbuh menjadi faktor pendukung. Namun, tanpa kurikulum yang adaptif, kedekatan geografis dengan pabrik tidak akan berarti banyak. SMK Matig Gresik memastikan bahwa setiap siswa memiliki sertifikat kompetensi dari lembaga sertifikasi profesi sebelum mereka melamar kerja.

Nasib 27 Persen Sisanya: Kuliah atau Wirausaha?

Ahmad Fauzi menjelaskan bahwa sisa 27 persen lulusan yang belum bekerja bukan berarti menganggur. Sebagian dari mereka memilih melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, baik di dalam maupun luar negeri. Sebagian lagi memilih merintis usaha sendiri, terutama dari jurusan Tata Boga dan Bisnis Daring dan Pemasaran.

"Kami selalu mendorong siswa untuk memiliki rencana setelah lulus. Bekerja, kuliah, atau wirausaha, semuanya kami fasilitasi. Yang penting mereka tidak berhenti," kata Ahmad Fauzi.

Pihak sekolah juga terus memperbarui data lulusan hingga enam bulan setelah wisuda. Jika ada lulusan yang belum mendapatkan pekerjaan, sekolah akan mempertemukan mereka dengan perusahaan mitra yang masih membutuhkan tenaga kerja. Sistem penelusuran ini dilakukan secara berkala agar data serapan lulusan tetap akurat.

Keberhasilan SMK Matig Gresik ini diharapkan bisa menjadi model bagi sekolah kejuruan lain di Jawa Timur dan Indonesia. Dengan pendekatan yang tepat, lulusan SMK tidak lagi menjadi penyumbang angka pengangguran, melainkan justru menjadi solusi bagi kebutuhan tenaga kerja terampil di industri.

Reporter: Xander Situmorang
Sumber: pwmu.co This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top